Danau Kastoba Gresik

Danau Kastoba berada diketinggian 400 M diatas permukaan air laut. Ada ratusan anak tangga yang harus Anda lalui dengan semak belukar di kanan kiri jalan.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Kamis, 12 Januari 2023

Flora dan Fauna di pulau Bawean

 Secara historis, sebagian besar pulau ditutupi oleh hutan hujan perawan, tetapi (sebagai akibat dari aktivitas manusia) luas totalnya menurun dengan cepat; pada akhir abad ke-20, hutan menutupi kurang dari 10% pulau. Sekitar 15% lahan sekarang diklaim oleh jati umum yang dibudidayakan (Tectona grandis).


Hutan lokal dicirikan oleh pertumbuhan tumbuhan bawah rendah yang lebat, dengan dominasi pakis, bryophyta, dan anggrek. Spesies pohon yang paling umum adalah Ficus, Nauclea dan Symplocos adenophylla. Beberapa spesies tumbuhan tidak terdapat di sekitar Pulau Jawa, seperti Canarium asperum, Pternandra coerulescens, Pternandra rostrata, Champera manilana, Ixora miquelii, Phanera lingua dan Irvingia malayana. Semak-semak bakau terdapat di beberapa daerah pesisir pulau, dengan spesies utama adalah Sonneratia alba, Rhizophora mucronata, Bruguiera cylindrica dan Lumnitzera racemosa.

Fauna Pulau Bawean secara umum sangat mirip dengan spesies yang ditemukan di Jawa. Fauna lokal endemik pulau yang paling unik adalah spesies rusa kecil, yang dikenal sebagai rusa Bawean (Hyelaphus kuhlii), yang juga disebut sebagai rusa Kuhl atau rusa babi Bawean. Itu dianggap sebagai simbol Bawean, dan dilindungi oleh hukum Indonesia. Sayangnya, ada kurang dari 250 individu, dimana lebih dari 90% milik satu populasi. Dengan jumlah yang lebih rendah, variabilitas genetik populasi rusa berisiko mengalami "bottlenecking" (yaitu, populasi rendah yang mengarah ke perkawinan sedarah), sehingga mereka terdaftar sebagai "sangat terancam punah" di Daftar Merah IUCN.[



Bawean menampung mamalia unik lainnya, seperti kera pemakan kepiting (Macaca fascicularis), landak Sunda (Hystrix javanica), musang India kecil (Viverricula indica), dan musang palem Asia (Paradoxurus hermaphroditus). Burung yang paling umum adalah bangau malam bermahkota hitam (Nycticorax nycticorax), bangau ungu (Ardea purpurea), cikalang besar (Fregata minor) dan burung camar (Gelochelidon nilotica). Reptil diwakili oleh berbagai jenis biawak (Varanus sp.), serta ular sanca batik raksasa (Python reticulatus) dan buaya air asin yang menakutkan (Crocodylus porosus), yang terakhir kadang-kadang (jarang) berenang ke pedalaman, ke hulu dari pantai, meskipun untuk waktu yang singkat.


Upaya pelestarian alam pertama kali dilakukan saat Bawean berada di bawah pemerintahan kolonial Belanda. Pada tahun 1932, lima hutan dengan total luas 4.556 hektar (11.260 hektar) dinyatakan sebagai cagar alam. Pada tahun 1979, dua cagar alam nasional (Indonesia) dibuat, dengan luas 3.832 dan 725 hektar (9.470 dan 1.790 hektar), terutama untuk menjaga kerapatan hutan, habitat utama Rusa Bawean.

Kebudayaan Masyarakat Bawean

 Kebudayaan Masyarakat bawean berbagai macam diantaranya

  • Kercengan

Kercengan biasanya dipersembahkan sewaktu acara Perkawinan. Masyarakat Madura menyebut nama kercengan dengan Hadrah.

Penari berbaris sebaris atau dua baris. Pemain kompang dan penyanyi duduk di barisan belakang. Lagu-lagu yang dimainkan adalah lagu-lagu salawat kepada Nabi Muhammad SAW. Pemain kercengan terdiri dari laki-laki dan perempuan.

  • Cukur Jambul

Bayi yang telah genap usianya 40 hari mengikuti acara bercukur jambul. Adat ini sama seperti adat orang Melayu dan Jawa. Bacaan berzanji bersama paluan kompang merayakan bayi yang akan dicukur kepalanya.

  • Pencak Bawean

Pencak Bawean sering ditampilkan dalam acara hari besar seperti hari kemerdekan 17 agustus maupun acara perkawinan orang bawean. Pencak Bawean mengutamakan keindahan langkah dengan memainkan pedang.

  • Dikker

Alunan puji-pujian dan shalawat kepada Nabi Muhammad SAW disertai dengan permainan terbang.

  • Mandiling

Sejenis tari-tarian disertai dengan pantun

Misteri Gunung Malokok

 Bercerita tentang sebuah gunung atau bukit tentu akan merasa terkesima dengan ketermasyhuran nama \”Gunung Malokok\” di masa lampau. Gunung ini berada atau terletak di antara kepungan lima desa di Kecamatan Sangkapura. Lima desa dimaksud sebagai pengepung antara lain; Desa Sungairujing sebelah timur, Desa Sawahmulya dan Desa Kotakusuma di sebelah selatan, Desa Patar Selamat di sebelah barat, serta Desa Gunung Teguh di sebelah utara. Secara historis geografis Gunong Malokok merupakan wilayah teritorial Desa Gunung Teguh.

     Berdasarkan kisah lisan yang mengalir dari orang-orang terdahulu melalui tuturan dari mulut ke telinga (bukan dari mulut ke mulut karena bisa, red) bahwa Gunung Malokok merupakan sisa letusan gunung tertinggi se-Bawean kala itu yakni Gunung Totoghi. Hal ini disandarkan pada kata \”Malokok\” yang bersinonim dengan kata \”menir\”. Menir itu sendiri bernosi bagian beras yang kecil-kecil. Bila demikian adanya sedikit bisa diterima oleh akal waras. Cerita lisan yang amat mengejutkan bahwa dulunya kawasan Gunung Malokok oleh Sang Maha Pencipta akan dijadikan Kota Mekah. Bukti kegagalan kehendak suci ini terlihat dari tatanan lapisan batu pualam di sepanjang aliran batang sungai di kaki gunungnya mirip lempeng batuan di tanah suci Mekah. Penyebab batalnya menjadi Kota Mekah di daerah Gunong Malokok kononnya ada seekor ayam jantan putih mendahului berkokok. Kokok tersebut kini sudah tidak ada lagi. Cerita versi dongeng yang sempat menggemparkan pula bahwa di bagian perut bumi Gunung Malokok terdapat kuda emas. Bualan ini keluar dari mulut seorang Sang Pertapa yang berhasil melakukan tirakat selama emput puluh hari empat puluh malam menyendiri di salah satu sudut lereng gunungnya. Peristiwa pengungkapan adanya kuda berbahan emas di dalam perut bumi Gunung Malokok terus menjadi bahan pergunjingan permanen. Begitu ramai dibincangkan bagi kalangan warga yang menetap di sekitarnya. Bahkan tidak hanya itu, seorang dukun atau tabib palsu bernama Sayyin Syafi\’e sebelum melakukan aksi tipu-tipu pengaku sebagai ahli pengobatan alternatif mengawali tirakatnya dari kaki Gunung Malokok bagian selatan. Tabib penipu masa lalu itu berhasil menelanjangi sekaligus mempermalukan warga Bawean khususnya warga Sangkapura yang telah terang-terangan menggendong dan mengusung sanak saudaranya menuju pojok selatan sebelah timur alun-alun Kota Sangkapura sebagai tempat aksinya. Tujuan mereka sekadar mau sembuh dari tangan tabib bodong itu. Berbagai jenis penyakit yang diderita warga keluar semua dari sarang tempat tinggalnya. Sembuh di tempat akibat permainan sulap atau hipnotisnya. Berapapun uang dikeluarkan dari kocek warga masing-masin asal dapat sembuh. Kenyataan setelah sampai pulang ke rumah kembali kisah seorang yang lumpuh dapat berdiri dan berjalan normal saat di alun-alun saja. Pulang sampai di rumah kembali lumpuh seperti sedia kala. Tiba-tiba saja Pak Dukun Sayyin Syafi\’e menghilang entah ke mana.
 Awam juga belum banyak tahu bahwa di puncak ketinggian Gunung Malokok terdapat pusara atau tempat \”pasarean\” seorang putri dari Sunan Ampel (Raden Rahmat) Surabaya. Putri tersebut bernama Nyai Malokok atau lebih terkenal dengan sebutan Jujuk Malokok. Nyai Malokok telah memiliki andil dalam penyebaran agama Islam di Pulau Bawean.(baca: Waliyah Zainab Pewaris Syekh Siti Jenar). Makna yang tersirat dari pusara harus diletempatkan di puncak gunung menunjukkan betapa tinggi nilai sebuah perjuangan dalam menegakkan panji-panji siar dakwah. Keberadaan pusara Nyai Malokok itu sekadar bernisan batu dan berbalut kafan kusam tanpa ada yang memberikan perhatian berlebih. Sungguh ironis nasib seorang pejuang Islam tanpa ada yang mau hirau.
     Di bagian selatan kaki Gunung Malokok terdapat komplek bangunan makam yang dianggap salah satu pelopor siar Islam yakni makam Purbonegiro wafat pada tahun 1747 Masehi. Situs tersebut lebih terkenal dengan sebutan \”Congkop\”. Juru kunci yang dipercaya adalah Ustadz Raden Aminuddin alias Mak Ending asal Dusun Sawahluar Desa Kotakusuma. Di zaman lampau tempat tersebut kerap kali dijadikan ajang ritual tujuan \”nyekar\” atau ziarah. Ramai barisan dokar pengangkut para peziarah musiman parkir mengular di sepanjang batang jalan antara Dusun Sawahdaya dan Dusun Sawahmulya bagian utara. Mereka datang berziarah dengan membawa segala hidangan untuk jamuan santab bersama setelah melakukan penunaian \”paneatan\” atau nazar lainnya. Kini tradisi nyekar di kaki Gunung Malokok sudah hampir tiada lagi jejaknya seiring dengan bertambah menterengnya bangunan komplek makan hingga menghilangkan kesan kesejarahannya. Pellem poteh atau mangga putih dengan tatanan batu karang penuh balutan lumut hijau sebagai tengara dan pagar pembatas komplek makan yang menjadi saksi sejarah kini sudah tiada lagi. Semua sudah berganti tembok dan pintu berpagar besi, menghilangkan kesan kekunoannya. Di sinilah pentingnya memperhatikan sebuah artefak dari sisi aspek kesejarahan. Bangunan kuno lebih eksotik dibanding dengan stailis mewah berdinding keramik. Dahan pohon cempaka pun semakin langka adanya. Semua dipermak serba modern sehingga kesan kesejarahannya menjadi punah seketika.
     Gunung Malokok juga menyimpan nostalgia masa silam tentang adanya kegemaran anak-anak muda untuk mendapat hasil alamnya (food gathering) dari berbagai tanaman buah dab sejenisnya. Buah prinadona kala itu sebagai \”manggisnya warga Bawean\” berupa buah bedung. Buah dengan rasa kecut manis berbji ini dan berkulit kuning merona itu mampu mencukupi kebutuhan akan vitamin C sebagai pendukung stamina kesehatan tubuh. Biji bedung sedap dikulum lidah hingga biji manisnya ditelan hingga menuju lambung dan bersarang di perut anak-anak masa melarat hidupnya. Untuk memperoleh limpahan buah bedung kadang cukup dengan melemparkan sekepal batu atau nekat memanjat pokok bedung yang menjulang tinggi itu. Buah bedung yang didapat langsung disantap di tempat, sedang selebihnya di-\’co\’or\’ bak tusukan sate pada sebuah lidi daun arin. Kadang membawanya pulang dengan cara mengalungkan di keher bila memang kebanyakan. Riang gembira rasanya membawa pulang deretan buah bedung itu. Hamparan tanah Gunung Malokok menyimpan berbagai ragam buah. Salah satu kandungan perut dari tanah Gunong Malokok terdapat buah bengkoang. Kerap kali segerombolan anak-anak muda naik merayap dari kaki hingga puncak Gunung Malokok untuk mendapatkan buah bengkoang dengan rasa manus menepung di lidah. Mereka cukup menculak-culik di hamparan tanah Gunung Malokok sudah bisa mendapatkan buah bengkoang yang banyak tumbuh liar. Tentu anak-anak muda dengan perasaan riang gembira pula membawa pulang banyak buah bengkoang alam walau harus turun kembali dengan cara menggelinding dan berguling-guling tinggi menukik menuju kaki bukutnya kembali. Mereka tidak begitu perduli walau bagian belakang kain celananya harus kotor dan robek atau \”bhukkak\” dianggap hal yang lumrah. 
     Kejadian aneh dan sedikit menyeramkan yang selalu muncul adanya aroma masakan kuah cumi-cumi di kegelapan malam. Peristiwa berbau horor ini sering terjadi di jalan lintasan tanjakan sebelah timur Gunung Malokok menuju dusun Teguh di malam hari. Menurut kepercayaan warga setempat bahwa menyeruaknya aroma kuah nos itu menandakan adanya demit berupa setan berjenis \”Oreng Celleng\” yang menampakkan diri. Hal ini ditakuti karena akan dapat menghilangkan orang apabila kerubuhan olehnya.
     Peristiwa tragedi yang kerap kali menimpa Gunung Malokok adanya kebakaran hutannya. Anggapan sementara terjadinya kebakaran rutin di setiap musim kemarau merupakan sebuah kesengajaan dalam membabat alas dalam usaha membersihkan belukar dari talaran tumbuhan perdu dan tumbuhan gulma lainnya untuk dapat ditanami tanaman atau tumbuhan produktif lainnya.
     Paling berkesan dari Gunung Malokok adanya kemerduan suara kokok ayam alas di setiap pagi menyongsong terbit dan naiknya fajar gari ufuk timur. Kokok ayam alas yang nelengking dan berdurasi relatif panjang itu menandakan betapa mesranya hidup dengan suara alam yang merdu tiada tara. Warga yang tinggal di sekitar Gunung Malokok akan terus nenyimpan rekaman suara kokok ayam alas di ingatannya. Suara alam itu kini menjelma menjadi suara duka nestapa yang sudah tiada terdengar lagi. Ke mana gerangan perginya? Siapa gerangan yang beringas memunahkannya? Jawabnya,  \”Tanyakan pada ilalang kering yang tertiup angin lalu\”.

Cerita mistis Jherat Lanjheng

 Dalam bahasa baweannya dikenal dengan Jherat Lanjheng, yang berarti Makam Panjang. Makam ini menjadi salah satu destinasi wisata yang ada di Pulau Bawean, Kabupaten Gresik. Terletak di pinggir pantai, makam ini ternyata menyimpan sebuah kisah yang menarik dan melegenda.



Saat masih kanak-kanak, saya bersama teman-teman sekampung kerap mengunjungi makam panjang ini, khususnya saat lebaran. Karena, di sekitar makam ini kami bisa menyaksikan panorama alam yang mengagumkan. Kami juga terpukau dengan gugusan pasir putih dan air lautnya yang bersih.

Pantai Jherat Lanjang mempunyai pesisir pantai yang menjorok, kemudian memiliki bebatuan yang mendominasi di pinggiran pantainya. Di pantai ini lah kami sering membakar ikan segar dan melahapnya bersama-sama.

Makam ini berada di penghujung Dusun Tanjung Anyar, Desa Lebak, Kecamatan Sangkapura, Kabupaten Gresik. Ketika pertama kali melihat Jherat Lanjheng, saya pun merasa heran. Karena, ukurannya di luar nalar, yakni memiliki panjang sekitar 11-12 meter.

Berdasarkan cerita rakyat Bawean, Jherat Lanjheng merupakan makam dari salah seorang abdi dari Raja Jawa yang bernama Aji Saka. Dikisahkan, dulu ada seorang pemuda bernama Aji Saka. Ia adalah seorang kesatria yang baru saja berguru ilmu kesaktian. Setelah selesai mengabdi kepada gurunya, dia kemudian berniat untuk mengembara dan mengamalkan ilmunya.

Setelah mendapatkan nasihat dari gurunya, Aji Saka pun memulai pengembarannya dengan ditemani dua pengikutnya, yaitu Dora dan Sembada. Tak lupa, Aji Saka juga membawa beberapa barang pusakanya. Mereka kemudian mengarungi lautan hingga berminggu-minggu lamanya.

Hingga akhirnya, mereka berlabuh di Pulau Majeti, yang kini dikenal sebagai Pulau Bawean. Pulau ini memiliki pemandangan yang sangat menakjubkan hingga membuat Aju Saka bersama dua pengikutnya itu merasa sangat senang. Mereka kemudian menyusuri perkampungan dan menikmati pemandangannya.

Hingga suatu waktu, Aji Saka bertemu dengan seorang kakek yang arif dan bijaksana. Aji Saka mendapatkan informasi darinya bahwa ada pemandangan yang lebih bagus di sebuah pulau yang bernama Pulau Jabadiu, yang kini dikenal dengan Pulau Jawa. Karena, di sanalah pusat Nusantara.

Namun, barang-barang pusaka Aji Saka sudah semakin bertambah banyak dan tidak mungkin untuk dibawa ke Pulau Jabadiu. Akhirnya, Aji Saka terpaksa menitipkan pusakanya kepada salah satu pengikutnya, yaitu Dora. Sementara, Sembada harus mendampingi Aji Saka melanjutkan perjalannya.

Sebelum berangkat, Aji Saka juga berpesan pada Dora untuk menjaga barang-barang berharga yang ditinggalkannya tersebut. Jangan sampai barang pusaka tersebut diberikan kepada siapapun kecuali kepada Aji Saka sendiri.

Pesan tuannya itu dipegang teguh oleh Dora. Dia bahkan berjanji akan menjaganya meskipun nyawa sebagai taruhannya. Setelah itu, berangkatlah Aji Saka bersama Sembada ke Pulau Jawa dengan menumpang perahu nelayan.

Setelah tiba di Pulau Jabadiu, Aji Saka merasa girang dengan pemandangannya yang sangat menawan. Namun, di pulau itu Aji Saka juga harus berhadapan dengan seorang raja yang suka memakan rakyatnya. Beruntung, Aji Saka bisa menaklukkan raja kejam itu.

Atas kemengan itu bersorak-soraklah seluruh rakyat Pulau Jabadiu. Sejak saat itu, dimulailah perhitungan Tahun Saka oleh orang Jawa. Kemudian, Aji Saka dipercayakan untuk menjadi raja mereka. Prabu Aji Saka memerintah kerajaannya dengan sangat adil dan bijaksana, sehingga rakyatnya makmur dan sentosa.

Namun, suatu hari Prabu Aji Saka teringat pada barang-barang pusakanya yang ditinggal di Pulau Majeti. Karena sangat dibutuhkan untuk keperluan kerajaan, Aji Saka kemudian memerintahkan Sembada untuk mengambil barang-barang pusakanya itu.

Saat tiba di Pulau Majeti, Sembada sangat senang bisa bertemu lagi Dora, sahabatnya yang setia menjaga barang-barang tuannya. Sembada pun menceritakan kepada Dora bahwa tuannya kini telah menjadi raja di Pulau Bawa.

Dora pun merasa bersyukur dan turut senang. Lalu, Sembada menjelaskan maksud kedatangannya. Ia meminta kepada Dora agar menyerahkan barang-barang pusaka tersebut kepada Sembada untuk dibawa ke Jawa.

Namun, Dora tidak memberinya karena ia teguh memegang amanat tuannya agar tidak memberikan pusaka itu kepada siapapun, kecuali kepada Aji Saka sendiri. Sementara, Sembada juga teringat pesan Aji Saka agar membawa semua barang-barang pusakanya itu ke Pulau Jawa.

Keduanya sama-sama memegang pesan dari tuannya. Setelah berdebat dan hilang kesabaran, Sembada yang berbada gemuk kemudian menyerang Dora yang bertubuh tinggi dan jangkung. Terjadilah perkelahian yang amat sengit.

Awalnya, keduanya bertarung menggunakan tangan kosong. Lalu, Dora dan Sembada sama-sama mengeluarkan keris. Duel antara panawakan itu pun berlangsung lama karena sama-sama memiliki kesaktian.

Hingga akhirnya, Dora berhasil menghujamkan kerisnya ke dada Sembada secepat kilat. Namun, secepat itu pula Sembada berhasil menusukkan kerisnya ke lambung Dora. Keduanya terbelalak sejenak sambil tangannya memegang kerisnya masing-masing yang masih menancap pada sasarannya.

Kemudian, keduanya berangkul-rangkulan. Sementara, darah mengalir deras sekali dari tubuh mereka. Beberapa detik kemudian, mereka pun roboh dan tak berkutik lagi. Mereka tewas dalam mengemban tugasnya masing-masing. Dora tewas demi memegang teguh pesan tuannya dan mempertahankan janjinya sendiri. Sembada tewas dalam melaksanakan tugas yang dieberikan tuan kepadanya.

Sudah berminggu-minggu Prabu Aji Saka menunggu Sembada yang tak kunjung datang. Maka, dia pun pergi menyusulnya bersama beberapa prajuritnya. Setelah tiba di pantai Pulau Majeti, kagetlah Prabu Aji Saka menyaksikan kedua panakawannya yang telah gugur dengan keris yang masih tertancap di tubuhnya masing-masing.

Kemudian, Dora yang bertubuh tinggi dikuburkan di bawah pohon besar yang kini dikenal dengan Jherat Lanjheng. Sedangkan, Sembada dikebumikan di dekat kuburan penduduk yang tidak jauh dari kuburan pertama.

Di antara kedua kuburan tersebut, Aji Saka membuat prasarti sebagai kenang-kenangan kepada kedua penakawannya di samping juga sebagai pelampiasan rasa sedihnya yang tak terhingga. Prasasti tersebut di tulis di sebuah batu besar dengan ejaan Jawa Kuno. Sayang, batu tersebut kini telah di pecah-pecah penduduk sebagai fondasi jembatan muara, lebak.

Di depan jasad dua pengikutnya itu, Prabu Aji Saka membuat puisi yang kemudian dikenal sebagai Hanacaraka atau aksara Jawa. Kendati demikian, terdapat beberapa versi cerita tentang asal-usul Hanacaraka dari berbagai daerah.

Pusi yang ditulis Prabu Aji Saka tersebut berbunyi, Hanacaraka datasawala padhajayanya magabathanga. Artinya, Terdapat dua utusan. Mereka berbeda pendapat. Mereka berdua sama kuatnya. Inilah mayat mereka.

Hantu Olo-Olo

 Hantu ini dipanggil Olo-olo karena hanya terdiri dari kepala saja, yang bagian lehernya masih dipenuhi dengan darah.



 Diceritakan, Olo-olo memiliki wajah yang tidak jelas, tatapi dua bola matanya sangat besar. Dia akan menghantui siapa saja yang masih berada di luar rumah pada waktu menjelang Maghrib.

Biasanya, hantu kepala tanpa tubuh ini akan jatuh dari pepohonan, sehingga orang mengira ada buah yang jatuh. Jika menoleh dan melihatnya, maka Olo-olo itu akan menggelinding mendekat. Ketika kita sadar dan mulai berlari ketakutan, Olo-olo juga akan menggelinding semakin dekat dan mengikutinya sampai ke rumah.

Orang yang berhasil ditempeli oleh Olo-olo akan sawan dan susah untuk disembuhkan. Lalu bagaimana cara menghindarinya? Selain membaca doa, abaikan saja jika mendengar suara gedebuk di bawah pohon.

Cerita hantu Olo-olo ini juga menyimpan pesan tersirat. Hantu ini diceritakan agar anak-anak di Pulau Bawean segera pulang jika sudah masuk waktu Maghrib untuk kemudian berangkat mengaji di langgar-langgar.

Hantu Ilung Lanjang

 Dari segi fisik, hantu ini mirip dengan manusia. Hanya saja, hidungnya sangat panjang sampai ke kaki. Bahkan, hidungnya ini bisa berfungsi sebagai tongkat. Ilung Lanjang biasanya akan mengganggu para wanita yang masih melakukan pekerjaan rumah tangga di malam hari.



Saat bertamu ke rumah si wanita, Ilung Lanjang akan mengetuk pintu tiga kali. Setelah dibukakan pintu, Ilung Lanjang akan bertanya mengapa beraktifitas sendirian sambil membantu apa yang dikerjakan wanita. Sampai akhirnya Ilung Lanjang bilang bahwa dia lapar dan ingin makan.

Jika tidak ada lelaki dewasa satu pun di rumah itu, maka tamatlah riwayat si wanita. Ilung Lanjang akan langsung memakannya. Karena, Ilung Lanjang hanya takut pada laki-laki dewasa.

Dari cerita Ilung Lanjang ini mungkin memberikan pesan kepada anak-anak perempuan agar saat dewasa nanti tidak mudah menerima tamu laki-laki di malam hari. Sosok Ilung Lanjang di sini seakan menggambarkan lelaki hidung belang yang sukanya berbohong layaknya Pinokio.

Cerita hanti Ilung Lanjang ini memiliki versi yang berbeda-beda di setiap daerah di Pulau Bawean. Di daerah lain diceritakan bahwa Ilung Lanjeng ini akan menculik anak kecil yang nakal dan tidak mau tidur. Anak nakal itu akan dibawa oleh Ilung Lanjang menuju kuburan dan ditidurkan di sana. Ada yang mengatakan, akan dibawa ke kuburan dijadikan anak angkatnya.

Hantu Oreng Celleng

 Oreng Celleng digambarkan sebagai sosok hantu hitam pekat yang menyeramkan. Bentuknya persis seperti bayangan. Jika kita menoleh padanya dia akan bertambah panjang. Semakin sering kita menoleh dia semakin suka dan tubuhnya semakin memanjang hingga membuat orang yang melihatnya ketakutan.

Oreng celleng juga bisa menjelma sebagai manusia. Dia akan berpura-pura bertamu layaknya manusia pada umumnya, lalu akan mencelakai sang tuan rumah. Kata orang tua, Oreng Celleng biasanya akan bertamu sekitar pukul 21.00 malam ke atas. Untuk mengidentifikasinya, lihatlah pupil matanya. Jika berwarna putih, maka dialah Oreng Celleng.

Lalu bagaimana cara mengusirnya?

Ketika Oreng Celleng ini datang, kata nenek moyang kami, segeralah menyajikan gula merah yang diiris menggunakan peto (parang). Jilatlah irisan gula merah yang menempel pada peto (parang) di depan Oreng Celleng tersebut.

Kunyahlah pelan-pelan dengan mulut yang sedikit terbuka. Hal Itu memberikan kesan padanya seolah-olah kita sedang mengiris lidah, tapi tidak merasa sakit walaupun mulut kita penuh dengan darah. Oreng Celleng mengira kita sakti dan dia akan pergi.

Dari cerita hantu Oreng Celleng ini mungkin ada pesan tersirat dari para orang tua agar anaknya memiliki keberanian. Karena, setiap orang pasti memiliki kelemahan. Selain itu, anak Bawean dididik agar tidak mudah ciut saat menghadapi orang-orang zalim.


Cerita Mistis Gunung Menangis

 Gunung menangis merupakan salah satu gunung tertinggi yang ada di pulau Bawean. Gunung ini akan terlihat jelas dari sekitar desa gunung teguh dan sekitarnya. Gunung ini sering sekali di selimuti kabut terutama di waktu pagi dan sore hari. Dinamakan dengan gunung menangis bukanlah sebuah kebetulan, pastilah ada sejarah yang melatarbelakangi penamaan itu.

Menurut cerita yang berkembang di masyarakat bawean, gunung menangis ini merupakan tempat berdiamnya waliyah siti zainab ketika pertama kali tiba di pulau bawean. Beliau adalah salah satu tokoh penyebaran agama Silam di Pulau Bawean.

Siti Zainab merupakan putri Kiai Ageng Bungkul (Sunan Bungkul ) dan juga merupakan istri dari salah satu anggota wali songo yaitu Raden Paku (Sunan Giri). Dalam penyebaran agama Islam, Siti Zainab memusatkan dakwahnya di Desa Sudi Monggo yang kemudian lebih familiar dengan nama desa Diponggo. Siti Zainab meninggal dan dimakamnya di desa tersebut. Hingga kini makamnya selalu ramai dikunjungi warga dan menjadi salah satu wisata religi pulau Bawean.

Cerita detilnya waliyah siti zainab ini sebelumnya tiba di desa kumalasa dengan pakean yang lusuh dan compang camping, Sedangkan desa kumalasa pada saat itu sedang terjangkit penyakit sampar, karena kedatangan siti zainab berbarengan dengan kondisi desa kumalasa tersebut, maka rakyat desa menyangka bahwa penyakit itu telah di bawa dan di tularkan oleh waliyah zainab dan rombongannya. karena terprovokasi dengan berita itu maka rakyat desa kumalasa berbondong-bondong mengusir waliyah zainab dan rombongannya.

Karena pengusiran tersebut, akhirnya waliyah zainab beserta rombonganya menyusuri tempat demi tempat yang kondisinya masih berupa hutan rimba. hingga malam tiba mereka belum menemukan tempat berdiam yang aman. dengan terpaksa mereka harus bermalam di tengah hutan rimba, karena kondisi tersebut waliyah siti zainab beserta rombongannya memohon dan bermunajat kepada Allah, hingga menangis. karena kuasa Allah seluruh masyarakat bawean mendengar tangisan tersebut. kemudian masyarakat sekitar mencari asal tangisan tersebut.

Singkat cerita, masyarakat menemukan sumber tangisan di atas gunung tersebut. dan di namailah gunung itu dengan gunung menangis. Di duga makam yang ada di puncak gunung menangis tersebut adalah salah satu rombongan waliyah siti zainab, yang meninggal ketika tersesat di gunung tersebut.

x

Cerita Mistis Danau Kastoba Bawean

Pulau Bawean yang masuk wilayah Kabupaten Gresik memiliki objek wisata yang sangat menarik, yaitu Danau Kastoba. Uniknya, danau seluas 725 hektar ini berada di puncak ketinggian dan berada di tengah-tengah Pulau Bawean.

Nama danau ini terdengar mirip dengan Danau Toba yang berada di Sumatera Utara. Karena itu, sebagian orang Bawean menyebut Kastoba sebagai kakaknya Danau Toba. Danau yang indah ini dikelilingi oleh pohon rimbun, sehingga membuat udara di sekitarnya menjadi sejuk.

Namun, di balik keunikannya itu, Danau Kastoba menyimpan cerita mistis. Karena, danau ini konon terbentuk lantaran Ratu Jin di Pulau Bawean murka. Meskipun hanya sekadar legenda yang berkembang di masyarakat, cerita ini tetap menarik bagi para wisatawan, dan ini dia ceritanya!

Menurut cerita rakyat Bawean, pada zaman dahulu di tengah-tengah Pulau Bawean terdapat sebuah pohon besar yang anggun nan rindang. Jika ada seseorang yang berdiri di bawahnya, maka ia akan dapat meraih sebagian daun dari pohon itu.

Saat itu, Pulau Bawean diperintah oleh ratu jin yang sangat berwibawa dan memiliki pohon besar yang sakti. Ratu jin itu berupaya keras untuk melestarikan pohon miliknya itu. Konon, semua bagian dari tubuh pohon ini sangat berguna bagi kehidupan. Bahkan, sehelai daun dari pohon ini bisa menyembuhkan berbagai penyakit dan bunganya pun bisa berguna untuk kekebalan pemiliknya.

Karena itu, sang ratu kemudian memerintahkan dua burung gagak untuk melakukan penjagaan terhadap pohon sakti itu. Di samping itu, Ratu jin juga berpesan kepada kedua burung gagak agar tidak membocorkan rahasia kesaktian pohon ini kepada siapapun, termasuk kepada makhluk tak kasat mata lainnya dan manusia.

Setelah bertahun-tahun menjalankan tugasnya dengan baik, suatu hari burung gagak itu melihat sorang pemuda yang sedang berjalan melewati pohon itu. Dengan sigap gagak tersebut menghampiri pemuda dan bertanya.

Kalau bahasa gaulnya, Lu siapa dan apa yang lu lakukan di sini?.

Gue ke sini mencari obat untuk kesembuhan mata gue. Gue udah lama buta begini, jawab pemuda itu.

Karena tidak tega melihat kondisi pemuda tersebut, gagak itu kemudian membocorkan rahasia kekuatan pohon tersebut kepada pemuda. Gagak menyuruh pemuda tersebut untuk mengambil sehelai daun dari pohon ini dan mengusapkannya ke mata. Secara ajaib, mata pemuda itu pun menjadi normal dan bisa melihat indahnya dunia.

Namun, tak lama kemudian kabar ini terdengar oleh ratu jin. Ratu jin yang murka kemudian mencabut pohon raksasa ajaib itu, sehingga bekas dari cabutan pohon tersebut membentuk sebuah mata air. Mata air ini lah yang kemudian dikenal sebagai Danau Kastoba, yang saat ini menjadi salah satu destinasi wisata unggulan di Pulau Bawean.

Untuk menikmati keindahan dan pesona danau ini dapat dicapai dengan berjalan kaki. Melansir dari website resmi Disparbud Gresik, di tempat wisata ini terdapat spesies satwa langka aneka serangga yang takkan mungkin sama jenisnya dengan serangga di pelosok negeri.

Lokasi Danau Kastoba ini mempunyai daya tarik luar biasa dan merupakan kenyamanan tersendiri bagi para pecinta alam. Hamparan air tawar yang ada di danau ini juga banyak dihuni oleh ikan mujair species khas air tawar.

Berdasarkan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Provinsi Jawa Timur, Danau Kastoba merupakan salah satu obyek Cagar Alam yang dilindungi di Bawean. Danau Kastoba telah menjadi bagian dari cagar alam sejak tahun 1979. Oleh karena itu, obyek wisata ini tidak boleh dikunjungi oleh wisatawan dalam jumlah yang besar. 



Asal Usul Pulau Putri

 Asal usul penamaan Bawean bermula ketika kerajaan Majapahit tengah mencapai puncak masa keemasaannya  melalui patih yang sangat terkenal Patih Gajah Mada tengah bercita cita ingin menyatukan Nusantara di bawah kekuasaannya. Kemudian dikirimlah armada prajuritnya ke berbagai daerah seberang. 

Namun nasib sial salah satu kapal prajurit yang dikirim mengalami musibah dan terombang ambing di laut jawa. Ditengah laut mereka di terpa angin dan badai, berselimut kabut dan di ayun ayun oleh gelombang besar hingga berminggu minggu lamanya. Banyak diantara mereka yang meninggal dunia lantaran karena tidak kuat menahan lapar dan dahaga serta dinginnya angin di lautan.

Setelah angin mereda dan kabutpun perlahan mulai hilang tiba tiba terlihatlah gugusan gunung yang masih tampak samar samar di sebelah timur. Tapi kian lama gugusan gunung tersebut semakin terlihat jelas karena sinar matahari yang mulai menerangi pagi. Maka bergegaslah para perajurit Majapahit tersebut menuju ke gugusan gunung yang terlihat itu. 

Dengan badan yang sudah lemas, dengan sisa tenaga yang ada mereka bersusah payah untuk sampai ke gugusan gunung tersebut dengan harapan di tempat tersebut mereka bisa menyambung nyawa. dari saking gembiranya terlontar dari mulut pimpinan mereka rangkaian kata BA-WE-AN yang berasal dari bahasa Sansekerta yang memiliki arti \”Ada Sinar Matahari\”. Ketika sampai di di tempat yang dituju ternyata tempat tersebut adalah sebuah pulau dan hati mereka merasa lega karena terbebas dari maut.

Untuk mengenang masa masa tersebut akhirnya menyebut pulau ini Pulau Bawean. Pada awalnya nama pulau Bawean adalah pulau Majeti atau Majdi yang memiliki arti uang logam karena merujuk bentuk pulau Bawen yang bulat seperti uang logam. Kalau dilihat dari peta pulau Bawean hampir tidak kelihatan karena terlalu kecil apalagi jika menggunakan perbandingan skala yang kecil yang cukup besar pulau Bawean hanya berupa titik saja.

Pulau ini memiliki luas sekitar 200km2. secara administrasi pulau ini ikut dengan kabupaten Gresik walaupun dari segi bahasa sehari hari masyarakat pulau Bawean menggunakan bahasa Bawean yang mirip dengan bahasa Madura. Namun dari letak posisi memang pulau Bawean lebih dekat dengan Kabupaten Gresik dengan jarak 80 mil. Menurut Emmanuel Subagun Wartawan Kompas Jakarta bahwa penduduk pulau Bawean adalah campuran dari berbagai suku yang ada di Indonesia sehingga tidak heran di pulau mungil ini banyak sekali ditemui berbagai macam budaya dari berbagai daerah di Indonesia.