Kamis, 12 Januari 2023

Flora dan Fauna di pulau Bawean

 Secara historis, sebagian besar pulau ditutupi oleh hutan hujan perawan, tetapi (sebagai akibat dari aktivitas manusia) luas totalnya menurun dengan cepat; pada akhir abad ke-20, hutan menutupi kurang dari 10% pulau. Sekitar 15% lahan sekarang diklaim oleh jati umum yang dibudidayakan (Tectona grandis).


Hutan lokal dicirikan oleh pertumbuhan tumbuhan bawah rendah yang lebat, dengan dominasi pakis, bryophyta, dan anggrek. Spesies pohon yang paling umum adalah Ficus, Nauclea dan Symplocos adenophylla. Beberapa spesies tumbuhan tidak terdapat di sekitar Pulau Jawa, seperti Canarium asperum, Pternandra coerulescens, Pternandra rostrata, Champera manilana, Ixora miquelii, Phanera lingua dan Irvingia malayana. Semak-semak bakau terdapat di beberapa daerah pesisir pulau, dengan spesies utama adalah Sonneratia alba, Rhizophora mucronata, Bruguiera cylindrica dan Lumnitzera racemosa.

Fauna Pulau Bawean secara umum sangat mirip dengan spesies yang ditemukan di Jawa. Fauna lokal endemik pulau yang paling unik adalah spesies rusa kecil, yang dikenal sebagai rusa Bawean (Hyelaphus kuhlii), yang juga disebut sebagai rusa Kuhl atau rusa babi Bawean. Itu dianggap sebagai simbol Bawean, dan dilindungi oleh hukum Indonesia. Sayangnya, ada kurang dari 250 individu, dimana lebih dari 90% milik satu populasi. Dengan jumlah yang lebih rendah, variabilitas genetik populasi rusa berisiko mengalami "bottlenecking" (yaitu, populasi rendah yang mengarah ke perkawinan sedarah), sehingga mereka terdaftar sebagai "sangat terancam punah" di Daftar Merah IUCN.[



Bawean menampung mamalia unik lainnya, seperti kera pemakan kepiting (Macaca fascicularis), landak Sunda (Hystrix javanica), musang India kecil (Viverricula indica), dan musang palem Asia (Paradoxurus hermaphroditus). Burung yang paling umum adalah bangau malam bermahkota hitam (Nycticorax nycticorax), bangau ungu (Ardea purpurea), cikalang besar (Fregata minor) dan burung camar (Gelochelidon nilotica). Reptil diwakili oleh berbagai jenis biawak (Varanus sp.), serta ular sanca batik raksasa (Python reticulatus) dan buaya air asin yang menakutkan (Crocodylus porosus), yang terakhir kadang-kadang (jarang) berenang ke pedalaman, ke hulu dari pantai, meskipun untuk waktu yang singkat.


Upaya pelestarian alam pertama kali dilakukan saat Bawean berada di bawah pemerintahan kolonial Belanda. Pada tahun 1932, lima hutan dengan total luas 4.556 hektar (11.260 hektar) dinyatakan sebagai cagar alam. Pada tahun 1979, dua cagar alam nasional (Indonesia) dibuat, dengan luas 3.832 dan 725 hektar (9.470 dan 1.790 hektar), terutama untuk menjaga kerapatan hutan, habitat utama Rusa Bawean.

0 komentar:

Posting Komentar